Perempuan belia itu awalnya hanya mondar-mandir sembari senyam-senyum ketika aku ngobrol bersama tiga penghuni kos lain. Bahkan ketika ia ikut nimbrung, ia masih sibuk dengan dunianya sendiri bergelut dengan hape dan pikiran yang kadang melayang. Tetapi ketika satu demi satu penghuni kos berhamburan dengan urusan masing-masing, menyisakan perempuan itu dan aku yang juga akan beranjak, perempuan itu lekas-lekas membuka mulut menahan langkahku. Ia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang tadinya cuma diam aja, tiba-tiba langsung nyerocos. Memperkenalkan diri. Menanyai aktivitasku. Dan sebuah pertanyaan yang membuatku sangat tercengang.
"Mbak, mbak tau kan temenku yang kayak cowok itu?"
Aku mengangguk. Beberapa malam lalu aku mendengar suara gaduh diluar. Ketika menengok ke depan, ternyata ada penghuni kos baru. Dua diantara mereka berambut pendek.
"Kemarin temenku itu nyuruh aku nanya-nanya apakah mbak dan mbak yang itu (perempuan itu menunjuk perempuan berambut pendek di dalam kamar) adalah butchy?"
Kontan aku terperangah. Perempuan itu tanpa tedeng aling-aling bertanya.
Awalnya, aku cukup kebingungan menjawab, namun perlahan kujelaskan sekaligus memberi pengertian bahwa di lingkungan sini masih belum terbuka soal hal itu. Ia mengangguk-angguk mengerti. Dan sejak obrolan itu, hampir tiap aktivitasku tak pernah luput dari pantauan dan komentarnya.
Sebuah realita yang membuatku tertawa. Bagaimana tidak, dulu aku pernah bercerita anak ibu kos ternyata belok. Lalu ada seorang perempuan berambut cepak lagi yang kadang kugiring mengakui kelesbianannya. Ditambah seorang penghuni lagi yang juga belum mau mengakui. Lah, terakhir perempuan yang masih duduk di bangku SMU ini yang jelas-jelas mengungkap orientasi seksual sang teman namun menampik dirinya mempunyai orientasi seksual yang sama. Wah, kos-kos-an kok makin banyak anak-anak beloknya, selain perempuan-perempuan berjilbab nan pendiam di lantai atas.
Sebelum Pesta
9 hours ago


