Sunday, November 1, 2009

KOS-KOS-AN BELOG!

Perempuan belia itu awalnya hanya mondar-mandir sembari senyam-senyum ketika aku ngobrol bersama tiga penghuni kos lain. Bahkan ketika ia ikut nimbrung, ia masih sibuk dengan dunianya sendiri bergelut dengan hape dan pikiran yang kadang melayang. Tetapi ketika satu demi satu penghuni kos berhamburan dengan urusan masing-masing, menyisakan perempuan itu dan aku yang juga akan beranjak, perempuan itu lekas-lekas membuka mulut menahan langkahku. Ia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang tadinya cuma diam aja, tiba-tiba langsung nyerocos. Memperkenalkan diri. Menanyai aktivitasku. Dan sebuah pertanyaan yang membuatku sangat tercengang.
"Mbak, mbak tau kan temenku yang kayak cowok itu?"
Aku mengangguk. Beberapa malam lalu aku mendengar suara gaduh diluar. Ketika menengok ke depan, ternyata ada penghuni kos baru. Dua diantara mereka berambut pendek.

"Kemarin temenku itu nyuruh aku nanya-nanya apakah mbak dan mbak yang itu (perempuan itu menunjuk perempuan berambut pendek di dalam kamar) adalah butchy?"
Kontan aku terperangah. Perempuan itu tanpa tedeng aling-aling bertanya.
Awalnya, aku cukup kebingungan menjawab, namun perlahan kujelaskan sekaligus memberi pengertian bahwa di lingkungan sini masih belum terbuka soal hal itu. Ia mengangguk-angguk mengerti. Dan sejak obrolan itu, hampir tiap aktivitasku tak pernah luput dari pantauan dan komentarnya.
Sebuah realita yang membuatku tertawa. Bagaimana tidak, dulu aku pernah bercerita anak ibu kos ternyata belok. Lalu ada seorang perempuan berambut cepak lagi yang kadang kugiring mengakui kelesbianannya. Ditambah seorang penghuni lagi yang juga belum mau mengakui. Lah, terakhir perempuan yang masih duduk di bangku SMU ini yang jelas-jelas mengungkap orientasi seksual sang teman namun menampik dirinya mempunyai orientasi seksual yang sama. Wah, kos-kos-an kok makin banyak anak-anak beloknya, selain perempuan-perempuan berjilbab nan pendiam di lantai atas.

Friday, October 30, 2009

RE-FRESH HEART

Membuka hati, mencoba tepatnya. Karena aku sendiri tidak terlalu yakin hati yang mana yang hendak kubuka, malahan kalau boleh kupertentangkan dan memang kerap terjadi dialektika diantara pikiran, aku masih punya hati kah? Itu mungkin pertanyaan besarnya. Tapi tentu saja jangan diartikan dalam definisi denotatif. Tiap makhluk tentu punya hati.

Fokus hidupku saat ini hanyalah berusaha mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan untukku sendiri karena dipundakku kini tertulis tanggung jawab orangtua semata wayang, perempuan yang mengandung dan melahirkanku. Otakku hanya terperas untuk itu. Cukup bikin mumet. Dan rasanya sudah terlampau penuh untuk memikirkan hal lain. Mencari cinta maksudnya, karena mempertahankan jelas tak mungkin. Hari-hari yang selalu dan selalu begitu jelas-jelas tak untuk diperlama, meski jeda waktu untuk mulai terbiasa juga tak singkat. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya.

Berulang aku berkata; tak ada waktu mencari cinta. Aku berpikir bahwa ketika kehidupanku sudah tak disibukkan meraih dan menggapai buliran rupiah dengan susah payah, pendamping akan mengikut dengan sendirinya. Tapi tak bisa kunafikan bahwa keinginan untuk ditemani, atau paling tidak disemangati -dan bukannya dimarahi dan di curigai- untuk meraih sesuatu dalam hidup oleh orang terkasih kadang terbersit. Meski kemudian ada ketakutan mengiring.

Ya, aku menyebut itu sebuah ketakutan. Dan sekali lagi jangan diartikan sebagai makna sebenarnya. Sejak aku membuka diri mencari pasangan perempuan kurang lebih empat tahun lalu, perempuan yang pernah tersemat di hatiku boleh dibilang bisa dihitung dengan jari. Meski sebuah pengecualian ketika untuk pertama kali hatiku terobek aku mencari tambalannya dengan begitu banyak penambal. Walhasil, tangan-tangan yang mungkin sengaja kubiarkan merogoh tempat paling sensitif -kata Ari Lasso- itu malah compang-camping. Aku kapok!
"Suatu saat kau akan menemukan orang yang lebih baik!" seru si pembuat lubang di hatiku itu dengan nada tenang seolah tak menyadari bahwa hati yang masih bersemi oleh sosoknya ini sontak beku seketika.
"Kapan itu akan terjadi?" Aku merutuk karena entah kenapa sejak itu hari-hari sepanjang hidupku hanya beralih dari satu kenalan ke kenalan lain.
"Aku yakin suatu saat kau akan menemukannya. Dan jikalau sekarang begini, mungkin waktu tsb belum datang kepadamu!"
Ucapannya doeloe kini terngiang di kupingku.
"Shit!" Aku mengumpat dalam-dalam. Waktu tsb sampai detik ini belum datang padaku.

Berelasi dengan orang-orang baru, ya dulu aku mulai melakukannya. Bahkan sampai tak hafal nama mereka satu persatu. Tapi untuk sekarang ini, kurasa umurku sudah tak lagi muda melakoninya. Lagian, malas!
Mengenal sosok yang tak pernah kutemui, dalam dunia maya pula, malas! Membahas umur, kegiatan sehari-hari dan basa-basi lainnya. Hah, makin malas saja.
Aku sudah setahun di jogja, dari selentingan aku tahu beberapa tempat kumpul lesbian di kota ini, tapi lagi-lagi, malas!

Ah, kurasa aku juga mulai muter-muter. Apa mauku sebenarnya? Mungkin dibilang sederhana tapi susah direalisasikan. Bisa tidak menemukan seseorang yang klop tanpa perlu kenalan sana-sini, mulai dari facebook sampai Mirc, paling tidak, untuk berbagi? Karena jujur, aku sudah terlampau malas menjajaki seseorang dengan basa-basi sampai basi.
Ya mungkin jawabannya memang cuma satu, aku memang belum waktunya menemukan orang yang tepat! Ah pusing juga mikirin begituan ya! Anyone can help? Just rescue me!

Wednesday, October 28, 2009

KEBETULAN YANG BETUL-BETUL SALAH!

Cerita ini hanya iseng dan kebetulan semata...
Tanggal 28 Oktober, aku kebetulan mendapat sms dari seorang teman di Jakarta. Teringat kami dulu pernah "ngerumpi" soal perkumpulan lesbian yang tengah bermasalah, dimana ia juga menjadi korban sampai termehek-mehek. Bukan cerita itu yang akan kubahas.
Ketika online di kantor, iseng-iseng aku buka fesbuk perempuan itu, menjelajah teman-temannya satu persatu, dan apa yang aku temukan...
Aku mendapati fesbuk seseorang dari masa laluku. Aku bahkan mengucek mataku beberapa kali dan memelototkan penglihatan ke layar monitor. Dan benar, itu dia. Padahal dulu ia mengaku tak suka forum dunia maya, selain memang dilarang oleh "guk-guk"nya.
"Ati-ati lho ntar ada guk-guknya!" seru seorang teman yang dulu mengetahui ceritaku dengan orang dari masa lalu ini.
Aku tertawa lepas karena memang aku juga menemukan si "guk-guk" dalam daftar temannya. Aku pun teringat, hari ini adalah hari ultahnya. Hah, kok banyak kebetulan hari ini. Kebetulan dapat sms dari teman lama. Kemudian kebetulan iseng menjelajah isi fesbuknya. Kebetulan nemuin fesbuk seseorang dari masa lalu. Kebetulan hari itu tanggal 28. Kebetulan hari itu aku teringat adalah hari ulang tahunnya. Dan diantara semua kebetulan itu ternyata aku kebetulan betul-betul salah ingat. Ulang tahun seseorang dari masa lalu itu bukan tanggal 28 Oktober, seingatku ia berzodiak Libra, 28 Oktober kan udah keitung Scorpio hehe ingatanku betul-betul salah. Ya maklum dah hampir empat ato lima tahunan hehehe...

Kebetulan apa lagi ya?

WHY, GOD?

"Kamu kok tenang-tenang aja sih, padahal kelangsungan hidup kita bagai telur di ujung tanduk!" ujar seorang teman kantor padaku melihat aku tak tampak panik dengan situasi tempat kerja yang lagi masuk "ruang ICU" itu. Bagaimana tidak, seperti yang temanku ungkap, hidup kami memang tengah dipertaruhkan. Tapi prediksi mereka akan ketenangan wajahku sepertinya salah besar. Aku memang tak menampakkan rupa cemas ketika bersama mereka, tapi nyatanya ketika kakiku terayun pulang dan memasuki ruang 3x3 kala mentari baru sembunyi di peraduannya, bukan hanya wajahku yang berubah drastis. Mood. Otak. Dan semuanya. Seperti komplikasi penyakit, campur aduk. Masalahnya otakku tak hanya merekam cerita hidupku semata, tetapi juga urusan perut ibuku. Belum juga terselesaikan akan bagaimana aku menambah pundi-pundi rupiah, ruangan 3x3 itu memaksaku memikirkan hal lain. Jengah juga!
God, aku sedang tak ingin berpikir, sungguh! Karena tiap kali aku beranjak dari tekanan pikiran itu tiap kali pula semangatku sedikit demi sedikit luntur. Gamang lagi. Tujuan yang telah di-plan-kan tampak samar dan sumir lagi. Seperti jalan di tempat, stuck lagi. Dan kembali pertanyaan yang sama menggaung dan menggema dalam diri, kenapa hidupku seperti ini? Why God? Dan selalu hanya pertanyaan tanpa jawab!
00:23 Wed 28 Oct 2009.

SIFAT ORANG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH

SIFAT ORANG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH


SIFAT :

A : terorganisir, konsisten, jiwa kerja-sama tinggi, tegas, bisa diandalkan meski keras kepala, perfeksionis sehingga kadang bikin orang lain jadi sebel, mudah cemas atau gugup, biasa menekan perasaan sehingga terlihat tegar, keras terhadap orang-orang yang tak sependapat dengannya, kecenderungan politik: “destra”.

B : santai, easy going, bebas, dan sangat menikmati hidup, cenderung punya banyak hobby, kalo sedang fokus dengan sesuatu biasanya melalaikan hal lainnya, kalo lagi suka dengan sesuatu biasanya menggebu-gebu tapi cepat bosan, ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal, tidak suka bergaul dengan banyak orang, bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang dikerjakannya, kecenderungan politik: “sinistra”.

O : berjiwa besar, supel, nggak mau ngalah, nggak suka hal-hal yang njlimet (detil), fleksibel dan mudah menerima hal-hal baru, mudah terpengaruh oleh orang lain atau dari apa yang dilihat di TV, biasanya disukai oleh semua orang, mudah menutupi perasaan sehingga terlihat selalu riang dan tak punya masalah tapi kalo sudah nggak tahan akan mencari tempat curhat, kecenderungan politik: “centro”.



AB: unik, nyleneh, banyak akal, berkepribadian ganda, lembut, sensitif, penuh perhatian dengan perasaan orang lain, sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam, punya banyak teman, kecenderungan politik: “sinistra”.

BERDASARKAN URUTAN :

Yang paling gampang ngaret soal waktu :

1. B (karena nyantai terus).
2. O (karena flamboyan).
3. AB (karena gampang ganti program).
4. A (karena gagal dalam disiplin).

Yang paling susah mentolerir kesalahan orang :

1. A (karena perfeksionis dan narsismenya terlalu besar).
2. B (karena easy going tapi juga easy judging).
3. AB (karena asal beda).
4. O (easy judging tapi juga easy pardoning).

Yang paling bisa dipercaya :

1. A (karena konsisten dan taat hukum).
2. O (demi menjaga balance).
3. B (demi menjaga kenikmatan hidup).
4. AB (mudah ganti frame of reference).

Menurut survey, golongan darah yang paling disukai untuk jadi teman :

1. O (orangnya sportif).
2. A (selalu on time dan persis).
3. AB (kreatif).
4. B (tergantung mood).

Kebalikannya, teman yang paling disebelin/ tidak disukai:

1. B (egois, easy come easy go, maunya sendiri).
2. AB (double standard).
3. A (terlalu taat dan teliti).
4. O (sulit mengalah).

Thursday, October 8, 2009

Segera Terbit: WHITE LIES


SINOPSIS

Sejak kedatangan Eyang Putri dari Jogja, Mia, perempuan lajang yang hampir memasuki usia kepala tiga, dibuat resah sekaligus jengkel. Pasalnya, kehadiran sang nenek telah mengusik hal paling tabu yang selama ini tak pernah diungkit kedua orangtuanya.

Menikah. Mia paling gerah jika ditanya hal yang satu itu. Apalagi keinginan sang nenek sudah tak dapat ditawar lagi. Dihadapkan pada kondisi tersebut, Mia memilih kabur ke Bali bersama Feri, perempuan berperawakan laki-laki yang beberapa tahun ini menyempurnakan ketidaksempurnaan hidupnya.

Tanpa disangka, di Bali, Mia dikuntit seorang laki-laki tampan bernama Anton yang awalnya dikira Mia adalah laki-laki hidung belang, namun ternyata ia gay. Dan tanpa disangka pula, laki-laki tersebut telah menyusun rencana sedemikian rapi untuk Mia kemudian setuju memutuskan menikah dengan Anton demi membungkam keinginan neneknya.

Namun satu demi satu kejutan bermunculan. Semua meleset dari rencana semula. Perkawinan yang diperkirakan Mia akan berakhir cepat porak poranda. Keputusan apakah yang dipilih Mia? Membentuk sebuah keluarga utuh bersama Anton ataukah menemukan kebahagiaan sejati dalam kasih sayang pasangan lesbiannya?

White Lies. Kebohongan yang tak selalu hitam. Kebohongan yang tak selamanya putih. Kebohongan yang terkadang abu-abu.

White Lies. Bukan sebuah pembenaran atas nama cinta.

Tuesday, October 6, 2009

Ceceran Cerita Lalu

Beberapa malam lalu ketika aku mengobrak-abrik dokumen lama, tak sengaja aku menemukan rangkuman tanggal-tanggal penting beserta ringkasan peristiwa. Dan tahu tidak tahunnya... Sepuluh tahun lalu. Tepatnya ketika aku SMU. Aku mulai membaca satu demi satu cerita, yang kuakui kosakata dan gaya penulisannya sangat lugas sehingga kurang enak dibaca meski secara keseluruhan mudah dimengerti.

.Ah, lupakan tentang bahasa! Aku memacu ingatanku untuk memutar ulang kenangan satu dekade lalu itu. Orangnya aku ingat betul, tapi satu persatu cerita yang tertera hanya beberapa tanggal saja yang sanggup kureka ulang sementara yang lainnya aku hanya sanggup berkata: "Cerita yang mana ini ya?"
Yah, aku memang sungguh lupa. Tapi sosok dalam cerita itu, aku masih teramat ingat. Perempuan yang setahun lebih muda dariku. Ia adik kelas yang kebetulan juga adik kandung teman sekelasku. Aku sudah mengenalnya, tepatnya, melihat sosoknya sejak ia kelas 3 SMP. Ia sering kulihat sepulang sekolah di mobil yang juga menjemput kakak perempuannya. Anehnya, setelah aku naik kelas dua dan ia jadi adik kelasku, aku malah akrab dengannya, bukan dengan kakaknya. Malahan ketika menelepon ke rumahnya dan kebetulan sang kakak yang mengangkat aku harus menyamarkan nama dan suara meski sang kakak selalu bisa menebak dengan benar. Tengsin juga, selevel dengan kakaknya, kok malah akrab dengan adiknya. Namun lama-lama aku jadi terbiasa.

Dan yang lebih aneh ketika aku beranjak di kelas tertinggi semasa SMU, aku dekat dengan dua adik kelas yang telah kuanggap seperti adikku sendiri sama-sama berebut perhatianku, bahkan untuk sebuah permen. Aku masih ingat ketika itu, adik kelas yang kelasnya bersebelahan dengan, sebut saja V, memberiku permen berbatang layaknya es krim. Nah, ketika itu, adik kelas yang lain, sebut saja M, lewat dan meminta permen tsb. Ketika tahu siapa pemberi permen itu terhadapku M manyun. Begitu pula ketika keduanya saling berebut buku-buku catatan dan hasil-hasil ujianku semasa aku kelas dua dulu yang lebih sering kuberi ke V, dan M pun iri. Aku bukannya pilih kasih, kupikir M lebih pintar sekaligus lebih kaya kuanggap mampu membeli semuanya. Namun M bukan mempermasalahkan tentang hal itu, ia juga butuh perhatian dan pemberian yang sama. Begitu pula ketika suatu hari berkas ulangan bahasa Inggrisku kuberikan pada M, V marah-marah. Padahal solusinya cukup dengan meminta berkasnya pada M untuk difotokopi. Tetapi V menolak. Hal yang selalu membuatku tertawa adalah kedua perempuan ini tak pernah terlihat akur apalagi berbarengan dalam satu even.

Status ekonomi yang menjedakanku dengan M, meski M tak pernah memberi batas. Aku sendiri yang memberi jarak. Lain hal dengan V, aku sering menyatroni rumahnya, kenal orangtua dan dua kakak perempuannya. Ia pun sesekali berkunjung ke rumah. Pernah, hubungan kami renggang bahkan nyaris putus ketika ia berpacaran dengan lelaki yang aku tak suka.

Dua perempuan ini mengingatkanku akan hakikat kenapa aku memilih orientasi seksualku sebagai pencinta perempuan. Aku dulu malah terfikir, aku menyukai perempuan hanya sebatas ingin punya saudara perempuan untuk berbagi. Aku akui, rasa cemburu itu ada, tapi tidak untuk memiliki. Aku hanya senang ketika mereka dekat denganku.

M dan V menautkan kembali ceceran cerita masa lalu yang selalu menyisakan sebait senyuman di bibir. Meski keduanya tak lagi dekat di selayang mataku, namun kita tetap berhubungan.

M telah meraih cita-citanya sebagai dokter dan menikah dengan lelaki yang seprofesi dengannya. Aku masih ingat ia pernah berujar begini ketika menyambangi praktek dokter THT tempat kerjaku dulu semasa ia masih menjadi mahasiswa kedokteran. "Mbak, kalau nanti aku jadi dokter, mbak jadi asistenku ya?" Sebuah janji yang mungkin suatu saat nanti akan kutagih.

Sedangkan V lebih ada kontak denganku. Smsnya sering mampir ke ponselku, seperti ketika aku pulang kampung Idul Fitri kemarin. Ia berujar kangen dan memintaku datang ke kota tempatku lahir serta dibesarkan. Tapi aku tak ada waktu. V mengaku sedang menanti giliran menikah setelah kakak keduanya naik pelaminan tak lama lagi.

Dua perempuan yang akan selalu membekaskan cerita manis dalam ceceran masa laluku.

I miss u, girls!